Malaikat

Selasa, 06 Desember 2011 00:00 WIB | 7.041 kali
Malaikat Anak lelaki kecil dengan rambut warna pasir itu menggoyang kotak sepatu di lengannya. Dia telah menghias kotak itu dengan gambar-gambar mengilat menggunakan spidol. Saya sedang mengunjungi kelas satu tempatnya belajar untuk memimpin lokakarya tentang malaikat, dan dia datang ke sekolah dengan mata bersinar dan kotaknya yang berharga itu.

Sebelum saya berkesempatan untuk membimbing anak-anak dalam perjalanan relaksasi, anak lelaki itu memegang lengan baju saya. "Bolehkah kutunjukkan sesuatu kepada Anda, Nyonya Malaikat?" bisiknya. Sebelum gurunya yang tinggi dan tampak galak itu sempat menyuruh si anak kembali ke mejanya, dia semakin mendekat dengan kotaknya. "Yah, sebenarnya aku ingin bercerita dulu kepada Anda, baru kutunjukkan ini." Dia meletakkan kotak itu di pangkuan saya dengan hati-hati dan, sambil menatap mata saya, dengan tenang seakan-akan tidak ada orang lain di ruangan itu, dia berkata, "Sebelum pamanku meninggal karena AIDS, dia bilang bahwa dia akan selalu menyertai­ku-bahwa dia akan menjadi malaikat yang selalu menjagaku. Dia bilang bahwa aku akan tahu kalau dia ada sebab aku akan menemukan bulu dari sayapnya. Aku mencari-cari bulu di salju selama berhari-hari, tapi aku tidak bisa menemukan tanda dari pamanku.  Semalam aku menemukan satu di atas bantalku." Dia membuka tutup kotak sepatu yang berhias itu untuk menunjukkan selembar bulu putih yang besar. "Aku membuat kotak malaikatku pagi ini begitu bangun tidur supaya bulu ini selalu aman."

Saya mendapatkan banyak kesempatan untuk bekerja bersama anak-anak, tetapi semangat bocah ini yang begitu terbuka dan percaya akan selalu saya ingat. Anak- anak dan malaikat mempunyai hubungan yang ajaib, dan malaikat mereka sama sama hidup dan beragamnya dengan anak-anak itu sendiri. Anak-anak tidak harus diyakinkan bahwa malaikat itu ada; mereka tahu dan mereka melihatrya.


Disadur dari buku SQ untuk Ibu, Penulis: Mimi Doe, Penerbit KAIFA



Yuk Bagikan :

Baca Juga

Potensi "Anak Nakal"
Senin, 31 Oktober 2016 09:49 WIB
Telepon Aku dong, please
Senin, 19 Januari 2015 12:19 WIB
Bermain, Apa dan Mengapa?
Senin, 19 Januari 2015 05:23 WIB